Menurut Ratih Ibrahim, psikolog dari Personal Growth,
sifat dasar manusia sebetulnya tak akan banyak berubah. Sifat dasar
adalah sifat bawaan di mana pemiliknya merasa paling nyaman di dalamnya.
Sifat dasar juga tidak bisa dinilai positif atau negatif. Sebagai
contoh, seseorang yang pada dasarnya tak suka banyak bicara, meskipun
pada saat-saat tertentu ia bisa saja fasih bicara –misalnya dalam rapat
atau saat presentasi-- ketika kembali ke rumah, biasanya ia akan kembali
ke sifat aslinya yang pendiam. Karena pada dasarnya ia memang lebih
nyaman berdiam diri daripada berbicara. Sebaliknya, seseorang yang
dasarnya periang, ekstrovert dan senang ngobrol, kemungkinan besar akan
stres berat bila diharuskan duduk manis dan tutup mulut selama lebih
dari satu jam.
Yang
bisa berubah, termasuk secara drastis, adalah kemasan luar, sikap,
serta cara berpikir kita. Antara lain penampilan fisik, sikap,
kematangan, wawasan, dan ideologi. Lantas,
mengapa seseorang akhirnya memutuskan untuk berubah atau mengubah
dirinya? Ratih mengungkapkan, ada banyak faktor yang mendorong seseorang
menuju perubahan itu. Antara lain:
Trauma atau pengalaman buruk di masa lalu yang terus menghantui
Dalam
hal ini termasuk rasa dendam, iri, atau sakit hati yang sebelumnya
hanya bisa Anda pendam sendiri di dalam hati. Misalnya, saat duduk di
SMA, ketika Anda naksir seorang pria teman sekelas yang tampan dan
pintar, sang pria idaman ternyata lebih memilih teman Anda yang cantik
dan lincah, ketimbang Anda yang cerdas tapi berpenampilan fisik
biasa-biasa saja. Jangankan perhatian Anda ditanggapi oleh si pria,
dilirik sedikit pun tidak. Atau,
diam-diam Anda menyimpan rasa iri melihat teman-teman sekelas memakai
sepatu dan tas bermerek ke sekolah. Anda ingin sekali memiliki semua
barang mahal itu agar 'diakui' sebagai bagian dari geng populer di
sekolah. Tapi apa daya, orang tua Anda berekonomi pas-pasan. Semua
rasa tidak puas dan sakit hati itu lantas melekat di hati Anda,
sehingga menimbulkan obsesi dan rasa 'dendam', yang suatu saat ingin
Anda lampiaskan entah dengan cara apa. Anda jadi terpacu untuk
membuktikan diri bahwa suatu hari nanti Anda bukan lagi seorang 'anak
itik buruk rupa' atau 'anak miskin' yang tidak diperhatikan siapa pun.
Obsesi
Mungkin
ketika kecil Anda terkagum-kagum melihat tante Anda –yang bekerja
sebagai pramugari-- sering wira-wiri ke luar negeri, sementara Anda
sendiri ke luar kota saja jarang. Atau, Anda sering membaca kisah dan
perjuangan hidup tokoh-tokoh terkenal dengan segala kehebatannya
–berikut cara mereka meraih semua impian mereka-- yang membuat Anda
terkagum-kagum dan terinspirasi. Rasa kagum itulah yang akhirnya
menimbulkan dorongan untuk melakukan perubahan dalam diri Anda dan mulai
meraih mimpi-mimpi Anda.
Cobaan hidup
Sejak kecil hingga menikah beberapa tahun, hidup Anda bak putri raja. Orang tua berada, suami
penuh perhatian, keuangan mantap, karier lancar. Namun, ketika
anak-anak lepas balita, suami Anda lumpuh total akibat suatu kecelakaan.
Karena orang tua sudah meninggal, Anda harus turun tangan sendiri
mengatasi berbagai masalah kehidupan. Mulai dari mencari nafkah untuk
keluarga, mendidik anak-anak, merawat suami, hingga mencari cara untuk
menghibur diri sendiri. Semua cobaan itu perlahan-lahan mengubah diri
Anda, dari semula putri raja yang manja menjadi wanita yang tegar dan
tangguh.
Ketiga
faktor di atas memang bisa memberi pengaruh yang berbeda-beda pada
setiap orang. Bagi sebagian orang, akan membuat mereka terdorong bahkan
terpacu untuk berubah ke arah yang positif. Tapi bagi sebagian lagi
justru ke arah sebaliknya. Misalnya, mereka malah menjadi frustrasi,
apatis, atau terjerumus ke perbuatan-perbuatan negatif yang merusak
diri sendiri, misalnya menjadi pecandu narkoba. Atau, terdorong untuk
meraih kekayaan dengan cara instan meskipun harus melanggar hukum dan
moral. Misalnya, menjadi 'wanita piaraan' seorang konglomerat atau
melakukan tindakan korupsi.